Pulau Sumatera Pusat Peradaban Dunia, Indonesia Benua Atlantis Yang Hilang

Pulau Sumatera

SumbarMedia.com, Bogor – Sebuah kajian baru yang didasarkan pada pendekatan etnolinguistik mengungkapkan bahwa Pulau Sumatra menjadi pusat peradaban dunia, dan diduga Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) sebagai sentralnya.

Dr Ir Ricky Avenzora, M.Sc, staf pengajar di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor kepada ANTARA di Bogor, sebagaimana dikutip dalam Antara, mengungkapkan bahwa pendekatan etnolinguistik itu menjadi hal baru dalam melihat sejarah.

“Pendekatan etnolinguistik itu dikaji oleh Lucky Hendrawan, Kepala Departemen Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Harapan Bangsa, Bandung. Yang bersangkutan sangat intens dan fokus pada banyak penelitian tentang budaya Nusantara,” katanya.

Wacana tersebut, kata dia, juga telah disampaikannya dalam kajian berjudul “Membangun Ekoturisme di Ranah Minang: Mewujudkan Keagungan Di Tanah Leluhur Para Manusia Yang Agung dan Paripurna” bersamaan dengan peluncuran Kereta Api Wisata di Sumbar, akhir pekan lalu.

Ia mengatakan, Prof Dr Arysio Nunes dos Santos dalam buku hasil penelitiannya tentang benua Atlantis yang hilang (“Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato`s Lost Civilization”: 2005), memaparkan bukti tentang lemahnya teori Atlantis oleh Plato.

Arysio Nunes dos Santos adalah pakar Nuklir dan Fisika Bebas kelahiran Brazil serta Profesor Rekayasa Nuklir Escola de Engenharia da Universidade Federal de Sco Paulo (UFMG).

Dengan bukti-bukti yang dimilikinya, Santos yakin bahwa Indonesia adalah pusat dari Benua Atlantis yang hilang tersebut. Banyak bukti geologi yang ia tampilkan dan juga bukti-bukti DNA biologi untuk mendukung teorinya itu.

Yang paling menarik, kata dia, Santos mengatakan bahwa pada masa Atlantis itu, Pulau Sumatra menjadi pusat peradaban dunia dengan Provinsi Sumbar diduga sebagai sentralnya.

Berkaitan dengan wilayah Provinsi Sumbar dengan ibu kota provinsi Padang, katanya, Lucky Hendrawan berhipotesa bahwa kata “Padang” berasal dari kata Pa-Da-Hyang (Pa= Tempat, Da= Wujud, dan Hyang= Agung) yang dapat diartikan sebagai Tempat Terwujudnya Keagungan.

Dikaitkan dengan benang merah asal-usul dan keberadaan suatu bangsa, maka hipotesis yang dikembangkan dengan pendekatan etno-linguistik oleh Lucky Hendrawan (2009) adalah sangat rasional dan perlu didukung untuk ditelusuri bukti empirisnya secara obyektif. Beberapa esensi pemikiran penting dapat dipetik dari hipotesis yang dia kembangkan.

Salah satunya adalah istilah “Sunda” bukanlah merupakan nama suatu suku (etnis) yang hidup di Pulau Jawa bagian Barat, melainkan nama sebuah wilayah besar (Sundaland) yang dibangun melalui suatu ajaran.

Jika ditelusuri dari sudut pandang etno-linguistik, maka banyak bukti empiris etno-linguistik yang menunjukan bahwa Negara Republik Indonesia sesungguhnya telah mengalami beberapa kali pergantian nama, sistem dan konsep kenegaraan serta pemerintahan.

Jika disederhanakan, maka rangkaian perubahan tersebut adalah seperti Dirgantara-Swargantara-Dwipantara-Nusantara-Indonesia. Kemudian, Sunda Nagara-Taruma Nagara-Banjaran Nagara-Pajajaran Nagara-Republik.

Dalam perkembangan peradaban “Bangsa Sundaland”, kata dia, maka Lucky juga menduga bahwa sejalan dengan meletusnya Gunung Batara Guru (sekarang Danau Toba) maka pusat ajaran (Mandala-hyang, diduga sebagai asal usul kata Mandailing) masyarakat Ba-Ta-Ka-Ra (Batak Karo) berpindah ke wilayah Pa-Da-Hyang.

Atas dasar logika hipotesa ini maka dia menduga bahwa wilayah Pa-Da-Hyang adalah Pusat Peradaban Tertua di Dunia yang masih tersisa, dan bahwa kata “Minang” berasal dari kata Mino-Hyang (Mino= Manusia, Hyang= Agung) yang berarti Manusia Yang Agung.

Meskipun hipotesa etno-linguistik yang dikemukakan oleh Lucky sangat mengejutkan dan “menantang” serta sangat jauh dari pola tulisan Kesejarahan Minangkabau yang ada dan tersedia selama ini, menurut Ricky Avenzora, bukan berarti berbagai hipotesa yang ia kemukakan bisa ditolak begitu saja.

Setidaknya, kata dia, hasil ulasan Prof Dr Priyatna Abdurasyid — Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris– atas berbagai hasil penelitian Prof Dr Arysio Nunes dos Santos menunjukkan bahwa logika etno-linguistik yang diajukan oleh Lucky Hendrawan mendapatkan jalan empiris dari aspek geologi untuk menuju suatu kebenaran keilmuan yang dapat terus dikembangkan.

Abudrasyid mengungkapkan bahwa setidaknya ada tiga persamaan antara teori Plato –sebagai pencetus pertama teori tentang Benua Atlantis– dengan hasil penemuan Arysio Santos.

Persamaan teori tersebut pertama, lokasi benua yang tenggelam tersebut adalah Atlantis, dan hal ini dipastikan oleh SantosIndonesia. Kedua, Plato dan Santos sama-sama menggambarkan mata rantai atau panjang dan jumlah gunung berapi di Indonesia.

Ketiga, Plato dan Santos sama-sama menggambarkan adanya kanalisasi lumpur panas di wilayah Indonesia sebagai akibat letusan gunung-gunung berapi yang abu panasnya tercampur air laut menjadi lumpur yang bersifat “impossible barrier of mud” (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui) dan bersifat “in-navigable” (tidak bisa ditembus atau dimasuki).

Hal ketiga ini adalah sangat berkaitan erat dengan semburan lumpur panas Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.

Terlepas dari pro dan kontra yang masih berkembang atas teori yang dikemukakan Santos tentang Benua Atlantis yang hilang, maka hipotesa etno-linguistik yang dicuatkan oleh Lucky Hendrawan sesungguhnya bisa dijadikan pemikiran baru, demikian Ricky Avenzora sebagai Wilayah Republik

http://www.sumbarmedia.com/nasional/what-ails-you/54-nasional/135-pulau-
sumatera-pusat-peradaban-dunia-indonesia-benua-atlantis-yang-hilang.html

==============

Apakah Pulau Sumatera adalah pusat perdaban dunia masa lalu, ataukah Sumatera adalah Atlantis yang hilang?

Perlu kajian & pembuktian lanjutan utk mebuktikan kebenarannya.

Ini adalah inspirasi baru bagi peneliti/ ahli sejarah utk lebih menggali sejarah Pulau Sumatera.

Sejarah Pulau Sumatera dimulai dari sejarah tak tertulis dalam bentuk “kaba”.

Masing2 daerah mengakui sebagai pusat kebudayaan pada masa prasejarah, misal Minang, Batak, Melayu, dll

Salam
Nofiardi 42


About this entry