Perempuan Minang saat PRRI

Diskusi berawal dari email Reni Nuryanti yang di Fwd Pak Abraham Ilyas kepalanta RantauNet

From: Reni Nuryanti

Assalamu’alaikum Pak Abraham Ilyas..

Salam kenal, saya Reni Nuryanti yang menulis PEREMPUAN MINANGKABAU MASA PRRI. Saya membaca email bapak ke Pak Jacky, yang terkirim ke saya.Betul, apa yang bapak tulis, bahwa kekerasan terhadap perempuan memang ada yang dilakukan oleh OPR. Tetapi, demikian juga oleh pihak APRI. Ini saya temukan di Solok, dimana APRI menempati rumah2 istri tentara PRRI. Lain dengan apa yang terjadi di Sumpurkudus. Disana mulai muncul istilah ganja batu dan ganja kayu yang demikian santer, setelah PRRI. Para perempuan itu tidak dinikahi APRI tetapi orang PRRI sendiri yang sudah berkeluarga.

Mereka banyak ditinggal begitu saja setelah PRRI. Beda dengan di Bukit Batuah di Agam, salah seorang perempuan mengaku pernah stress karena disekpa bermalam2 oleh OPR. Nah, dalam hal ini, saya melihat bahwa tindak kekerasan ataupun memori kesedihan bagi perempuan di Minangkabau, bukan hanya diakibat OPR, tetapi juga APRI dan APRI.Dalam hal ini, agar lebih bijak, saya akan melihatnya dalam sudut pandang sosial, militer, biologis serta psikologis. Oya pak, ada yang cukup mengagetkan bagi saya. Ada seorang perempuan di dusun terpencil di Solok, namanya Rakana. Dialah satu2nya perempuan yang menjadi tentara pelajar yang ikut berperang melawan APRI. Dia bersama 10 orang kawan laki2nya selama 3 tahun di hutan.Tampangnya khas, dengan rokok yang hampir tak pernah berhenti mengepul.

Mungkin ini dulu dari saya Pak, saya sedang menulis bab tentang perempuan, InsyaAllah kalau udah jadi, saya kirim.

Salam hangat,
Reni Nur


About this entry