Kembali Ke Ranah Menuju Akar

Biasanya saya menulis judul dulu pada sebuah tulisan. Kali ini tidak. Saya menulis dulu, baru kemudian menulis judulnya.

Apa yang mau saya tulis? Belum jelas juga. Yang ingin saya sampaikan adalah seputar catatan-catatan yang diberikan kepada politisi. Boleh, dong, saya menjadi pengamat dari pengamat politisi?

Media massa di Indonesia, sama dengan orang di kampung saya, bisa dengan sangat terlena menganalisa apa-apa yang terjadi dengan Obama. Kini, berpindah ke Palin. Obama dan Palin seakan menjadi anak kandung dalam pemberitaan dan analisa, sementara politisi Indonesia seakan terus menjadi anak tiri dan tersangka dari apa-apa yang belum dia kerjakan.

Sebagai contoh, politisi seperti Obama dan Paling pandai berpidato. Saya juga yakin bahwa saya bisa berpidato dengan baik, begitupula dengan para calon anggota legislatif yang lain. Tetapi, apakah pidato itu yang ditunggu orang, ketika hidup adalah perbuatan? Beberapa penulis yang hidup dari honor-honor di media massa, khususnya dengan cara menulis soal-soal politik, dengan mudah memuntahkan sumpah-serapah seolah politikus itu sampah. Eh, keliru, seolah politikus Indonesia itu sampah. Sementara, politikus di Amerika sana adalah berlian yang layak disimak.

Barangkali inilah mentalitas pasca-kolonial itu yang hidup dalam benak kaum intelektual pasca-kolonial juga. Apa yang diucapkan oleh politikus Indonesia tidak benar-benar disimak. Belum lagi dengan detil seluruh dimensi kehidupan seorang politikus. Yang diucapkan dan ditulis lebih banyak sisi idealitas yang belum tentu para penulisnya bisa menjalankan itu.

Istilah-istilah teknis dalam politik praktispun tidak diketahui dengan baik. Misalnya, soal daerah pemilihan. Juga persoalan-persoalan di daerah pemilihan masing-masing. Selain itu tentang tugas seorang anggota legislatif yang terbatas hanya kepada pengawasan atas eksekutif, penyusunan anggaran dengan eksekutif dan penyusunan undang-undang atau regulasi bersama eksekutif. Tiga tugas pokok itu diabaikan ketika memberikan penilaian atas seorang politikus.

Yang dikobar-kobarkan adalah dendam atas masa lalu. Saya beruntung tidak memiliki dendam apapun atas masa lalu, termasuk terhadap orang-orang yang mungkin pernah mengkhianati saya, mengejek saya, ataupun pernah dengan terang-terangan menyebarkan fitnah bohong atas diri saya. Tetapi saya melihat, sejumlah politisi lain, terutama dari angkatan muda, yang belum pernah berkuasa, yang bercita-cita atas masa depan mereka, selalu saja dicecoki dengan persoalan-persoalan masa lalu yang mestinya itu urusan kaum tua.

Sejak memutuskan menjadi politisi, saya memutuskan mengambil posisi dan mentalitas politisi. Saya mulai menyesuaikan diri dengan Partai Golkar, menikmati denyut persoalan yang muncul, termasuk di tingkat ranting, desa, nagari, kecamatan, kabupaten dan kota, propinsi dan tentu juga pusat. Golkar telah berubah menjadi partai tradisional di beberapa tempat. Tidak jarang saya bertemu dengan kader-kader tua yang militan, namun kecewa dengan keadaan. Mereka dulu barangkali menikmati betul sebagai satu-satunya partai penguasa, sementara sekarang sama saja dengan partai lain yang harus berjuang secara harian, mingguan, bulanan, tahunan dan puluhan tahun. Partai yang harus mempertahankan dirinya sebagai kekuatan demokrasi yang besar, bukan pelanjut dari sejumlah kesalahan di masa lalu.

Dari sisi pendanaan, hampir semua politisi yang saya kenal di Golkar terlihat bekerja secara sendiri-sendiri dulu, lalu membangun kolektifitas secara bersama-sama. Barangkali inilah masalah terbesar yang dihadapi oleh politisi, yakni semakin besarnya biaya untuk melakukan kegiatan-kegiatan politik. Bagi politisi yang hanya mengandalkan dukungan tradisional, biasanya bertumpu kepada organisasi primordial yang dimiliki, termasuk ormas-ormas yang dimasuki. Tetapi itu saja tidak cukup. Bagaimana anda bersaing mendapatkan pemilih, katakan sebanyak 1000 atau 2000 suara untuk mendapatkan kursi DPRD kabupaten dan kota, sementara di daerah pemilihan anda harus bersaing sesama politisi dan dengan politisi partai lain?

Apalagi, masyarakat sudah semakin menunjukkan kekuatannya. Politisi yang muncul sebagai calon anggota legislatif dianggap memiliki cukup uang untuk memajukan dirinya, sehingga segala jenis permintaan bantuan datang setiap hari. Beruntung saya maju di Sumatera Barat yang menurut riset Lembaga Survei Indonesia (Mei 2008) masyarakatnya tidak terpengaruh dengan politik uang. Di beberapa daerah memang ada permintaan yang berlebih kepada politisi, tetapi di sebagian besar daerah sama sekali hanya membutuhkan kehadiran politisi untuk sekadar berkenalan dan berdiskusi dengan keras.

Kemampuan politisi mensiasati daerah pemilihannya sungguh diuji. Ada yang datang menyebarkan spanduk ucapan selamat melaksanakan Ibadah Puasa atau nanti selamat merayakan Idul Fitri, ada yang menyebarkan kalender dan stiker, tidak sedikit yang memasang iklan di media massa, sementara yang lain menunjukkan kekuatan dengan cara dekat dengan para penyelenggara pemerintahan daerah dalam segala bentuk kegiatan formal.

Kalau saya ditanya tentang kiat dan strategi yang saya usung, tentu sulit saya ungkapkan secara terbuka. Bukan takut ditiru oleh orang lain, tetapi belum merasa yakin apakah strategi itu benar-benar tepat. Tetapi intinya adalah saya harus pertama sekali merasakan hawa di tengah-tengah masyarakat itu sendiri dengan sedikit atau banyak pancingan. Biasanya saya mengandalkan jaringan pertemanan yang sudah terbentuk, baik teman-teman sekolah di tingkat dasar, menengah dan universitas, atau keluarga terdekat saya yang bertempat tinggal di Sumatera Barat, serta tentu saja jaringan Partai Golkar yang sebetulnya belum sepenuhnya saya kenali dan yakini bisa mendorong suara untuk saya. Kenapa? Karena masing-masing calon anggota legislatif juga mengandalkan Partai Golkar. Jadi, terdapat semacam persaingan internal yang menurut saya sangatlah santun.

Dan ketika di lapangan, saya harus berani untuk mengambil keputusan untuk mengerjakan apa, dengan alat-alat sosialisasi yang saya bawa dan anggaran terbatas yang saya punyai. Sudah dua kali saya “turun” ke lapangan. Pertama selama tiga hari, kedua selama lima hari. Kedatangan pertama saya membawa uang sebanyak Rp. 5 Juta dan habis tepat ketika saya harus naik pesawat ke Jakarta. Kedatangan kedua saya membawa uang sebanyak Rp. 7,5 Juta dan tentu mobil yang disopiri oleh kakak saya dari Jakarta. Uang itu juga habis ketika saya menginjakkan kaki di bandara untuk kembali ke Jakarta.

Saya beruntung telah ditanggung ongkos naik pesawat pulang dan pergi oleh teman baik saya. Berapa kalipun saya pulang-pergi ke daerah pemilihan saya. Seorang teman saya yang mencalonkan diri di Sumatera Utara dan bertempat tinggal di Jakarta dari partai lain dengan penuh rasa iri mengatakan: “Wah, gua belum punya sponsor. Padahal, gua hanya membutuhkan sepuluh kali pulang-pergi ke dapil gua. Itupun gua belum punya sponsor.” Tentu saya prihatin atas “nasib” teman saya itu, tetapi sayapun tidak bisa berbuat apa-apa.

Tentu uang yang saya bawa di luar logistik yang dicetak di Jakarta. Lagi-lagi saya beruntung, karena stiker dan kartu nama yang saya bawa dicetak oleh saudara saya dengan mengandalkan printer besar di Jakarta. Bantuan terbesar saya terima dari teman di Gorontalo yang mencetakkan 5000 stiker di Surabaya. Alasan teman ini sederhana: karena Gorontalo dan Sumatera Barat memiliki filosofi yang sama, yakni Adat Bersendi Syara dan Syara Bersendi Kitabullah. Seorang teman lama yang bekerja di luar Jakarta mengirimkan uang sebesar Rp. 1 Juta untuk dibelikan buku, karena tahu saya juga membeli buku-buku di Kwitang untuk dibagikan ke sekolah-sekolah. Saya sungguh terharu atas sambutan kepala sekolahnya, lalu langsung menjadwalkan buka puasa. Saya tidak datang mengantarkan buku itu, hanya mengantar ke rumah seorang adik HMI yang saya kenal lewat internet. Dua perempuan HMI inilah yang datang mengantarkan ke sekolah itu.

Dan setiap kali kembali ke Jakarta saya harus memikirkan lagi, apakah masih bisa menyisakan uang untuk kembali lagi ke dapil saya? Semakin lama di dapil, semakin banyak permintaan, entah spanduk, kaos atau apapun. Tetapi yang paling banyak adalah kehadiran saya untuk bertatap muka. Pernah malam setelah pukul 12 malam, ketika saya kelelahan di rumah, datang telepon dengan nada intimidatif: “Saya sudah edarkan stikermu, tetapi mana wajahmu? Kami menunggumu di sini.” Dengan nada memelas, saya menjanjikan hari yang lain. Tidak mungkin saya harus mengganti lagi baju dan celana yang sudah basah, karena untuk sampai di rumah saya harus melewati sungai yang dalamnya sepaha, tanpa ada jembatan penyeberangan.

Setiap hari saya memastikan untuk hadir dalam acara-acara “resmi” yang dihadiri oleh lebih dari 50 orang sampai 500 orang. Setiap hari. Lalu, di sela-sela menunggu acara resmi, saya datangi tempat-tempat yang saya bisa datangi, dari rumah ke rumah, dengan mengandalkan informasi dari keluarga, teman, partai atau insting saya semata. Maka, saya menghindari bertemu dua kali dengan orang yang sama dalam sehari, karena hanya akan berputar-putar dengan persoalan-persoalan yang sama saja.

Dan anehnya, saya semakin merindukan untuk kembali dan kembali, bertemu dengan lebih banyak lagi orang, sebagian besar hanya untuk mengetahui persoalan mereka dan mendiskusikan solusi yang mungkin paling tepat. Saya semakin melupakan begitu banyak seminar dan diskusi yang saya pernah hadiri. Beberapa kali saya harus menelepon teman-teman saya di Jakarta atau di manapun, dari partai apapun dan profesi apapun, untuk bertanya hal-hal yang saya tidak ketahui. Untunglah saya memiliki database yang lengkap di otak saya tentang kemampuan-kemampuan spesifik yang saya punyai.

Tentu, saya lelah dan lelah. Untuk itu, saya memiliki tukang pijit khusus. Namanya Syahrul. Dialah teman saya. Dia dulu sama-sama satu SMA dengan saya di Jurusan Fisika SMA 2 Pariaman. Kalau saya ke Padang, dulu, saya suka memanggilkan untuk menemani saya tidur bersama yang lain, lalu dia dengan kemampuannya bisa memijit saya dan teman-teman lain. Dia memang menjadi tukang pijit. Pikirannya cerdas, profesinya juga luar biasa. Sosok Syahrul sering saya ledek sebagai “Suwondo”-nya Gus Dur. Di mata keluarga saya, Syahrul adalah teman saya yang paling tulus dan ikhlas. Wajahnya bersih, hatinya lebih bersih lagi. Jarang bicara, lebih banyak melayani. Pendapat Syahrul mungkin sangat tepat untuk menggambarkan saya: “Dulu, saya selalu berpikir, kau itu tenggelam dengan dirimu, pekerjaanmu, di berbagai media massa, di berbagai forum, lalu melupakan kampungmu, seperti yang lain. Nyatanya saya terkejut, sebagaimana juga orang lain, atas keputusan yang kau ambil di usia emasmu, dalam kemapanan yang kau nikmati!”

Cita-cita Syahrul seluhur dirinya: ingin belajar akupuntur di Jakarta, lalu mengembangkannya di Sumatera Barat! Beruntung di Jakarta saya juga mempunyai seorang dokter langganan saya, ahli akupuntur lulusan China dan Korea Selatan. Biasanya, kalau saya benar-benar kolaps, sakit, apapun penyakitnya (batuk, kolekterol, asam urat atau perasaan saja tentang itu), saya datang ke dia. Dia akan menaruh bebeberapa jarum di tubuh saya, lalu setelah itu saya kembali segar. Suatu hari, saya ingin memperkenalkan Syahrul dengan Dr Tjahyo. Mudah-mudahan mereka bisa bekerjasama dengan baik.

Apa yang saya lakukan dan kerjakan, barangkali hanya semata-mata demi sebuah ketenangan batin dalam menjalankan profesi sebagai seorang politisi. Di hadapan hampir 100 orang di kampung saya, dalam cahaya temaran lampu surau Lembah Aur, surau masa kecil saya ketika saya harus tidur di sana (lelaki Minang tang belum menikah pantang tidur di rumah), saya mengatakan dengan nada terbata: “Denai hanya ingin pulang, membangun kampung, bersama sanak keluarga. Denai tidak mau kampung ini hancur, masyarakatnya hancur, ekonominya hancur, karena dunia berubah dan terus-menerus mencoba menghancurkan kampung dan masyarakatnya. Kalau kali ini Denai gagal, izinkan denai menjadi petani, menggarap tanah milik keluarga, bersama Ajo Ir dan lain-lain.”

Hanya “pidato” saya yang tidak ditepuk-tangani, di tengah tepuk tangan atas pidato-pidato lain yang begitu indah dan mendirikan bulu roma. Dalam hati, saya menangis atas kemampuan olah kata yang masih tersisa, di tengah kemiskinan, ketidaktahuan, dan segala macam persoalan yang melanda orang-orang kampung saya.

Minggu depan, saya mungkin akan kembali, memenuhi sejumlah janji untuk bertemu muka dengan masyarakat di kampung saya. Tetapi, saya belum yakin itu kapan. Yang jelas, setelah tanggal 20 September, saya dan istri dan anak naik kendaraan pribadi, lewat jalur darat, menuju kampung. Istri saya ingin menikmati perjalanan panjang ini lewat jalur darat, 38 jam perjalanan. Dan tepat pada tanggal 1 Januari 2009 nanti, seluruh kehidupan kami akan berada di kampung. Saya sudah memutuskan mundur dari CSIS tanggal 1 Januari itu, juga mundur dari pekerjaan saya sebagai Analis Senior pada sebuah perusahaan konsultan.

Kembalikan, Kampung Halamanku!!!

Jakarta, 10 September 2008.
(Belum sempat mandi, setelah mendarat di Cengkareng pukul 20.30 tadi.)
http://www.indrapiliang.com


About this entry