Ekor Cicak

Pada suatu hari saya melihat kucing menangkap cicak, tiba-tiba ekor cicak terlepas dari badannya, tapi ekor itu bergerak-gerak bergelinyang dan meronta-ronta. Perhatian kucing tertuju pada ekor cicak yang mengelinyang itu, dan ekor cicak itupun ditangkap dan dipermainkannya, sedangkan cicaknya sendiri, secara pelan-pelan melangkah pergi dan berlalu meninggalkan sang kucing yang asyik dengan ekor cicak. Ekor cicak itupun setelah dia ber gelinyang kekiri dab ke kanan, kemudian dia menjadi lemas dan akhirnya berhenti sama sekali. Waktu itulah kucing sadar bahwa dia telah terkecoh, ternyata yang ditangkapnya hanya ekor cicak, dia telah terpedaya oleh gelinyang dan gerakan-gerakan ekor cicak.

Melihat kejadian itu, lalu saya teringat akan petuah seorang guru sewaktu menasehati muridnya : “Wahai muridku, Kebenaran itu bagaikan cicak nak, sering orang hanya menangkap ekornya, dan menganggap bahwa itulah kebenaran yang sebenarnya”.

Seorang guru lain juga ber petuah kepada muridnya :”Mencari kebenaran itu berbahaya, wahai anakku, tapi lebih berbahaya lagi bila engkau merasa telah menemukanya, lalu mengira bahwa dirimu saja yang benar, sehingga timbul kecendrungan dalam dirimu untuk menyalahkan orang lain”.

Memang kebenaran itu mutlak, sedangkan manusia adalah relatif dan penuh dengan segala kekurangannya. Akibatnya manusia tidak bisa menangkap kebenaran itu secara mutlak secara keseluruhannya, selalu saja ada yang kurang. Manusia tak dapat menangkap kebenaran secara utuh dan bulat, selalu saja ada sedikit yang sumbing.

Dengan menyadari segala kekurangan dan kelemahannya, manusia selalu berusaha untuk mencari dan mencoba melengkapi, walaupun sampai akhirnya tetap tidak lengkap dan tidak sempurna. Dalam mencari itulah, manusia selalu berusaha mendekati kebenaran, dengan berusaha mendekat kepada Tuhan. Maka setiap detik dan setiap saat dalam kehidupannya adalah dalam rangka mendekat kepada Allah. Cara pendekatan kepada Allah ini, ialah melalui, ibadah-ibadah yang tulus dan ikhlas yang dipersembahkannya.

Dengan menyadari kelemahan dan kekurangannya itulah maka manusia tidak berani mengklem atau mengatakan, bahwa hanya dirinya yang benar, kelompoknya saja yang benar. Hanya orang yang berpakaian seperti dia saja yang benar, yang lain, diluar kelompoknya adalah salah.

Lihatlah soal keimanan, kita tak pernah tahu rahasia tentang iman ini. Kita tak pernah tahu apakah teman kita beriman atau tidak, sebagaimana teman itupun tak pernah tahu bahwa kita beriman. Jangankan teman, istri sendiri, yang selapik seketiduranpun tak tahu apakah kita beriman dan berapa tebal ke imanan kita.

Orang tua yang melahirkan kitapun tak pernah tahu apakah kita beriman atau tidak. Jangankan teman, jangankan istri, jangankan orang tua, bahkan kita sendiripun tak pernah tahu apakah kita sudah beriman ? atau berapa tebal ke imanan kita?.

Lalu siapakah yang tahu tentang keimanan kita ?. Yang tahu ialah Yang Maha Tahu, hanya Allahlah yang tahu apakah kita beriman dan seberapa tebal keimanan kita.

Kalau kita sendiri tidak tahu tentang ke imanan kita, lalu bagaiman kita dengan seenaknya memberikan penilaian kepada orang lain dengan lancang mengatan si A tidak beriman, kelompok si B adalah begini dan begitu. Memang kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak kelihatan.

Bagi mereka yang telah merasa menemukan kebenaran dan menganggap dirinya saja yang benar. Apakah tidak mungkin, jangan-jangan yang ditangkapnya itu baru ekor cicak?. Kalau memang demikian keadaannya, marilah kita sama-sama berusaha lebih giat lagi menacari badan dan kepala cicak, mudah-mudahan dalam pencarian itu kita semakin dekat dan bertambah dekat kepada-Nya, seperti firman suci-Nya dalam sebuah hadis Qudsi:”Sikap-Ku terhadap hamba_KU, sesuai dengan sangka-sangkanya terhadap diri- Ku.

Aku akan selalu bersamanya disaat mana dia selalu mengingat diri-Ku. Kalau dia mengingat Aku dalam dirinya, maka Akupun akan mengingatnya dalam diri-Ku.

Barang siapa yang datang mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan menghampir padanya satu hasta, dan barang siapa yang menghampir satu hasta maka akupun akan mendekat kepadanya satu depa. Barang siapa yang datang kepada-Ku dalam keadaan berjalan kaki, maka Aku menyongsongnya dalam keadaan berlari.

Semakin dekat dan bertambah dekat, dalam mencari kebenaran adalah dalam rangka mendekatkan diri pada-Nya. Sayup-sayup sampai terdengar nyanyian Bimbo :’ Tuhan, Tuhan Yang MAha Esa, Tempat aku berteduh dari segala do’a. Aku dekat, Engkau dekat, Aku jauh Engkau Jauh.

** Dr.H.K.Suheimi


About this entry