Sambungan : NASAB dan Garis Keturunan di Minangkabau

Catatan : Sebagian diskusi ini seperti awalnya, masalah “Perdukunan dan Ramalan di Masyarakat Minang” tetap masuk dalam pembagahsan khusus, namun intinya yg bersarnya adalah seperti subjek diatas.
=========================

Assalamualaikum kapado tetua RN, cadiak pandai, dan alim ulama sarato dunsanak nan barado di Salingkaran RN

Tergelitik saya untuk menulis persoalan perdukunan ini dan agak sulit juga mau mulai dari mana.

Dalam beberapa minggu ini saya mencoba mencari dan membaca beberapa literature mengenai perkembangan ilmu bedah di Indonesia. Kebanyakan literature yang saya temukan berbahasa Belanda (dan ini pun tidak banyak yang tersimpan di perpustakaan FKUI) karena saya tidak bisa berbahasa belanda maka yang saya baca adalah ulasan-ulasan petinggi ahli bedah Indonesia.

Saya sampai pada satu kesimpulan bahwa sesungguhnya ilmu kedokteran yang sekarang ini dipelajari di berbagai universitas di Indonnesa adalah juga ilmu pengobatan tradisional (dukun patah dsb) yang sudah mengalami perubahan cara berfikir (perubahan pandang dalam pengobatan). Benang merah perkembangan ini sebenarnya (kata literature itu) dimulai dari era 19 an dimana Pasteur, lister, dan Koch mengemukakan konsep ilmiah fundamental. Para pakar kedokteran sepakat mengatakan bahwa era kedokteran modern itu dimulai pada era ini….

Pertanyaannya sekarang apakah semua orang setuju dengan konsep ilmiah ini??? Ternyata tidak… ada juga beberapa orang, masyarakat diberbagai tempat (dengan berbagai alasan tentunya) masih mempertahankan konsep primordial ini (konsep sebelum era 19 an tadi). Sehingga kita masih melihat terutama didaerah pedalaman menggunakan cara2 pengobatan kuno tersebut.

Barangkali ini sedikit yang bisa saya tambahkan untuk mengajak dan melihat permasalahan yang ada dari sisi non agama.

(konon katanya ada olok2an antara orang bali yang dulunya adalah juga orang jawa dengan orang jawa yang sekarang masih di tanah jawa; kata orang bali orang jawa itu adalah orang hindu yang tidak berpendirian teguh gampang dipengaruhi orang islam dengan gampang berpindah pendirian ke paham islam, sementara orang jawa bilang orang bali itu orang yang sudah tertutup mata hatinya menerima cahaya kebenaran sehingga dia tetap hindunya)

Wallahu a’lam
Rahyussalim


About this entry