Perdukunan dan Ramalan di Masyarakat Minang

Catatan :

Subjek diskusi ini dimulai dengan kiriman berkala cerita silat 5 Harimau Muda, yang mana mendapat tanggapan untuk masalah sesuai dengan subjek diatas, sehingga diskusi ini seperti biasanya dalam forum diskusi, pasti akan melebar keberbagai pembahasan tentang adat istiadat minangkabau.

Arsip diskusi :

http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/65051

=========

2008/2/18 Nofend St. Mudo :

> Sambil kembali tersenyum simpul, bayangan itu membayangkan kenakalan apa
> yang dilakukan bocah ini suatu saat nanti bila dia besar, karena memang
> menurut ramalan yang telah dia hitung dari susunan bintang di langit, …

Melihat cerita ini jadi muncul pertanyaan di benak saya, bagaimanakah posisi perdukunan dan ramalan dalam keseharian masyarakat Minang?
Belum terlupakan juga penanaman kepala kerbau dalam pembangunan Istana Pagaruyung.

BTW, ini masalah yang termasuk dosa besar, bahkan dosa paling besar dan tidak terampuni (karena termasuk syirik) tanpa tobat, bahkan bisa sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam (berarti dari Minang juga kan?) jika misalnya meyakini bintang itu yang mengatur nasib.

Allah Subhanahu waTa’ala berfirman (yang artinya):
“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. al-Jin 72:26-27)

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi waSallam bersabda (yang artinya):
“Barangsiapa mendatangi dukun lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, tidak akan diterima darinya shalat 40 hari. (HR. Muslim)

Bertanya dalam hadits itu dalam konteks untuk meyakininya. Sedangkan jika untuk menguji dan menunjukkan kedustaannya maka ini berbeda karena Rasulullah pernah didatangi seorang dukun maka Rasulullah bertanya untuk menunjukkan kedustaan dukun itu.


Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim

About these ads

About this entry